-->

Suku Cirebon - Suku Bangsa Di Bagian Barat Pulau Jawa

Suku Cirebon atau Jawa Cirebon adalah kelompok etnis yang tersebar di sekitar wilayah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, & Kota Indramayu. Selain itu, suku Cirebon juga dapat ditemui di sebagian Kabupaten Majalengka (sebelah utara atau biasa disebut sebagai Wilayah "Pakaleran"), sebagian Kabupaten Kuningan sebelah utara, sebagian Kabupaten Subang sebelah utara mulai dari Blanakan, Pamanukan, hingga Pusakanagara dan sebagian Pesisir utara Kabupaten Karawang mulai dari Pesisir Pedes hingga Pesisir Cilamaya di Provinsi Jawa Barat dan di sekitar Kec. Losari di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah

Kontroversi Suku Cirebon

Sempat ada pengakuan sebagai suku bangsa/etnis tersendiri

Pada mulanya keberadaan Etnis atau Orang Cirebon selalu dikaitkan dengan keberadaan Suku Sunda dan Jawa, tetapi kemudian eksistensinya mengarah pada pembentukan budaya tersendiri, mulai dari ragam batik pesisir yang tidak terlalu mengikuti pakem keraton jawa atau biasa disebut batik pedalaman hingga timbulnya tradisi-tradisi bercorak islam sesuai dengan dibangunnya keraton cirebon pada abad ke 15 yang berlandaskan islam 100%. eksistensi dari keberadaan suku atau orang cirebon yang menyebut dirinya bukan suku sunda ataupun suku jawa akhirnya mendapat jawaban dari sensus penduduk tahun 2010 di mana pada sensus penduduk tersebut tersedia kolom khusus bagi Suku bangsa Cirebon, hal ini berarti keberadaan suku bangsa cirebon telah diakui secara nasional sebagai sebuah suku tersendiri, menurut Erna Tresna Prihatin

Suku Cirebon sebagai etnisitas tersendiri

Indikator itu (Suku Bangsa Cirebon) dilihat dari bahasa daerah yang digunakan warga Cirebon tidak sama seperti bahasa Jawa atau Sunda. Masyarakat Cirebon juga punya identitas khusus yang membuat mereka merasa sebagai suku bangsa sendiri. Penunjuk lainnya yang mencirikan seseorang sebagai suku bangsa Cirebon adalah dari nama-namanya yang tidak seperti orang Jawa ataupun Sunda. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut yang bisa menjelaskan tentang karakteristik identik tentang suku bangsa Cirebon. Untuk menelusuri kesukuan seseorang, hal itu bisa dilakukan dengan garis keturunan ayah kandungnya. Selain itu, jika orang itu sudah merasa memiliki jiwa dan spirit daerah itu (daerah suku bangsa cirebon) maka dia berhak merasa sebagai suku yang dimaksud

Suku Cirebon merupakan sub dari Suku Jawa

Pada dasarnya, suku Cirebon dijadikan suku bangsa tersendiri ialah karena politik identitas, bisa dikatakan juga permainan politik pemerintahan daerah provinsi Jawa Barat. Padahal faktanya suku Cirebon merupakan bagian dari Jawa (subkultur) dari suku Jawa, dan Cirebon juga hanya nama kota/tempat asalnya (tempatnya/asal), sukunya ya tetap Jawa tapi sub Cirebon/Jawa Cirebon (untuk membedakan dengan subsuku Jawa lainnya).

Hal ini dapat dilihat dari segi kebudayaan, adat-istiadat, kesenian, & bahasa. Bahkan, nenek moyang/leluhur terdahulu juga sebenarnya adalah "Jawa". Cirebon itu unik dan berbeda dari suku Jawa pada umumnya maupun dengan suku lain. Meski begitu, Suku Cirebon menjadi Suku Jawa Lokal (asli) di wilayah provinsi Jawa Barat. Bahkan orang mengenal Cirebon adalah Jawa karena banyaknya perantau dari Cirebon ke daerah lain atau perkotaan-perkotaan besar dan jika ia ditanya ia berasal dari Cirebon dan jika ditanya tentang suku maka ia akan menjawab "Suku Jawa". Hal ini membuat banyak orang mengenal Cirebon adalah Jawa. 

Tetapi jangan berpikir begitu karena di Cirebon juga terdapat suku Sunda yang populasinya cukup banyak (signifikan) walau menjadi minoritas dan juga merupakan suku asli di Cirebon juga dan menjadi suku mayoritas di provinsi Jawa Barat. Hanya saja dulu orang lebih mengenal Cirebon adalah Sunda karena masuk Jawa Barat, hal ini tidak salah karena suku Sunda juga merupakan suku asli disana. Orang Cirebon kerap menyebut diri mereka sebagai 'wong cerbon' jika di Indramayu sendiri disebut "Reang Dermayon". Banyak juga yang berpikir jika Cirebon merupakan Suku Jawa-Sunda/Jawa Sunda, hal ini terdengar konyol karena tidak ada suku tsb. Tak ada 2 suku yang berbeda menjadi satu dan disebut namanya secara bersamaan/digabung seperti Jawa-Sunda, Bugis-Makassar, dll.

Jika memang campuran dari 2 suku atau lebih maka sebut saja salah satu (kemana lebih condong) atau lebih mirip kemana? Atau bisa juga membuat identitas baru (etnisitas baru yang mandiri) seperti suku Betawi yang juga merupakan campuran dari banyak suku. Lalu ada pula yang menganggap Cirebon itu berbeda alias bukan Jawa bukan Sunda, Cirebon suku Sendiri tetapi akulturasi dari kedua suku tersebut. Ada pula yg menganggap Cirebon ada 2 suku yaitu Jawa dan Sunda, ini baru benar. Karena di Cirebon memang ada 2 suku asli tetapi suku Jawa lah yang menjadi mayoritas disana, itulah mengapa Cirebon itu sangat unik.

Orang Cirebon jika saling bertemu jika ditanyakan tentang suku maka akan ditanya bagian mananya? Jawa atau Sundanya? Begitulah kira-kira, sekarang pun orang sudah banyak yang tahu akan hal ini, dan orang juga mulai membuka mata serta pikiran. Mereka sudah banyak yang tau akan hal ini, jelasnya juga jika bertemu orang Cirebon maka akan ditanya bagian Sunda atau Jawanya. Orang Cirebon memang memiliki bahasa yang agak berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya itulah yang membuatnya unik. Jika persentase perbedaan bahasa Jawa rata2 hanya sekitar 1-10% saja, maka Cirebon bisa mempunyai perbedaan hingga 15-30% karena didalamnya juga terdapat beberapa kosakata dari bahasa Sunda, Arab, Tionghoa, dan Belanda. 

Begitu pula dari segi adat, budaya, kesenian yang juga ada sedikit kemiripan dengan masyarakat Sunda dan agak berbeda pada masyarakat Jawa pada umumnya. Hal ini dikarenakan wilayah geografis yang berdekatan (berbatasan) langsung dengan itu mendatangkan akulturasi/asimilasi yang sudah ada sejak lama maka mempengaruhi kebudayaan, kesenian, serta bahasa Cirebon. Tidak hanya dengan budaya Sunda, kebudayaan, adat serta kesenian dari Arab & Tionghoa juga mempengaruhi Masyarakat Jawa Cirebon, kesenian-kesenian mereka juga sedikit dipengaruhi Belanda-Portugis. Ini perlu dipertegas, agar masyarakat Cirebon tidak melupakan/lupa dengan identitas Sukunya, nenek moyang/leluhurnya, para orang terdahulu, serta bagian suku/asal usul sukunya. Karena hal ini adalah masalah serius, dikarenakan menyangkut jati diri masyarakat Jawa di Cirebon.

Pandangan Hidup Suku Jawa Cirebon

Pandangan hidup suku Jawa Cirebon didasari dari implementasi adat istiadat yang didasarkan pada penjabaran hadis dan al-qur'an, diantara pandangan-pandangan hidup yang dipegang erat oleh masyarakat adat suku Cirebon adalah "petatah-petitih" (bahasa Indonesia: Pesan) dari Syekh Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)[5] selain petatah-petitih titip tajug (mushala) dan fakir miskin (harus memakmurkan mushala dan merawat fakir miskin) yang sudah dikenal luas, masih ada beberapa petatah-petitih lainnya, diantaranya adalah lima pandangan hidup suku Cirebon yang memiliki kemiripan nilai dengan Pancasila, yaitu
  1. Wedia Ning Allah (Takutlah Kepada Allah)
  2. Gegunem Sifat Kang Pinuji (Mengusung sifat-sifat terpuji kemanusiaan)
  3. Den Welas Asih Ing Sapapada (Utamakan cinta kasih terhadap sesama)
  4. Angadahna Ing Pepadu (Jauhi Pertengkaran)
  5. Amapesa Ing Bina Batan (jangan serakah dalam hidup bersama)