-->

Mengenal Filosofi hidup Suku Bawean

Suku Bawean, adalah suatu kelompok masyarakat yang mendiami sebuah pulau kecil yang bernama pulau Bawean di tengah laut Jawa, berada di sebelah utara kota Surabaya provinsi Jawa Timur. Populasi orang Bawean di pulau Bawean, diperkirakan sebesar 62.000 orang, sedangkan yang di luar pulau Bawean hingga di luar negeri, seperti Malaysia, Singapore, Australia dan lain-lain diperkirakan lebih dari 120.000 orang,

Filosofi hidup suku Bawean

Suku bawean berasal dari jawa timur. BA-WE-ANyang berasal dari bahasa sangsekerta "BA"artinya sinar"WE"artinya matahari "AN"artinya ada, yang bermaksud ADA SINAR MATAHARI.Kini mereka hidup di pulau yang baru mereka kenal dengan penuh kebahagiaan karna baru saja terselamat dari maut dengan nama itulah mereka menyebut pulau itu BAWEAN. Suku Bawean diakui masuk kedalam sub suku jawa menurut sensus bps 2010. Masyarakat melayu malaka dan malaysia lebih mengenal suku bawean dengan sebutan "Boyan" karena dalam pandangan mereka boyan berarti sopir dan tukang kebun, Sulit untuk menentukan waktu yang tepat kedatangan orang-orang Bawean ke Malaka karena tidak ada bukti dan dokumentasi sejarah mengenai kedatangan mereka.Tidak ada catatan resmi mengenai kedatangan mereka di Malaka.

Berbagai pendapat yang dikemukakan tidak bisa menunjukkan waktu yang tepat. Pendapat pertama mengatakan bahwa ada orang yang bernama Tok Ayar datang ke Malaka pada tahun 1819.Pendapat yang kedua mengatakan bahwa orang Bawean datang pada tahun 1824, kira-kira semasa penjajahan Inggris di Malaka, dalam catatan Pemerintah Koloni Singapore pada tahun 1849 terdapat 763 orang Bawean dan itu terus bertambah jumlahnya. Sedangkan dalam catatan Persatuan Bawean Malaysia pada tahun 1891 terdapat 3.161 orang Bawean yang tersebar di Kuala Lumpur, Johor Bharu, Melaka, Seremban dan Ipoh. Pendapat yang ketiga mengatakan orang Bawean sudah ada di Malaka sebelum tahun 1900 dan pada tahun itu sudah banyak orang Bawean di Malaka. Masyarakat Bawean umumnya tinggal di kota atau daerah yang dekat dengan kota, seperti di Kampung Mata Kuching, Klebang Besar, Limbongan, Tengkera dan kawasan sekitar Rumah Sakit Umum Malaka. Jarang ditemui orang Bawean yang tinggal di kawasan-kawasan yang jauh dari kota dan jumlah orang Bawean yang terdapat di Malaka diperkirakan tidak melebihi seribu orang.

Pulau yang luasnya kira2: 200km2 ini berada kurang lebih dua belas mil laut atau 120 km sebelah uatara kota gresik. Sejak tahun 1974 pulau bawean termasuk kabupaten gresik, yang sebelumnya berada dibawah kekuasaan surabaya.Pulau bawean terdiri atas dua kecamatan,30 desadan sekitar 143 dusun.Bwean dikenal oleh masyarakat antarabangsa karna dua hal yaitu karena mempunyai produksi anyaman tikar yang khas dan karena mempunyai satu jenis rusa yang tiada duanya di dunia yaitu AXIS KUHLI(rusa bawean)selain itu bawean dikenal karna kebiasaan masyarakatnya yang suka merantau.Terutamanya pemudanya sangat gemar merantau baik di dalam negari atau keluar negara "Belum di anggap dewasa jika putra bawean belum pernah mengijakkan kaki ke negara orang".Mengapa mereka suka merantau? yang pertama karena pulau bawean merupakan daerah kecil terpencil jauh dari keramaian kota dan di kelilingi laut.Letak geokrafis ini yang memaksa penghuninya untuk berusaha mencari kehidupan yang lebih layak di negeri orang.Jika ditelusuri asal usulnya , penduduk bawean benar benar berasal dari banyak suku bangsa, ada yang berasal dari sulawesi,bigis, palembang,madura, bajarmasin,jawa dan lain sebagainya.

Mata pencaharian :

Mata pencaharian orang Bawean yang berada di pulau Bawean adalah sebagai petani, mereka telah lama mempraktekkan pertanian tanaman padi, jagung, ubi dan sayur-sayuran. Kelapa juga banyak ditemukan di sekeliling perkampungan mereka. Selain itu para laki-laki yang tinggal di pulau Bawean ini, banyak yang bekerja sebagai nelayan. Pulau kediaman suku Bawean ini juga terkenal sebagai penghasil marmer, dan para perempuan Bawean sangat trampil dengan kerajinan tangan unik dari daun pandan.

Sistem Kekerabatan :

Di pulau Bawean, mayoritas penduduknya kebanyakan perempuan, dikarenakan para laki-lakinya sebagian besar bekerja di pulau-pulau lain. Orang Bawean, memiliki jiwa perantau yang sudah menjadi tradisi bagi mereka, bahkan semacam "keharusan' bagi para laki-laki Bawean. Menurut mereka kalau belum pernah merantau ke tempat lain berarti belum dewasa.

Orang Bawean memiliki jiwa merantau yang sangat kuat, sehingga mereka juga tersebar kemana-mana, termasuk ke Malaysia, Singapore bahkan sampai ke Australia.

Orang Bawean, secara ras, mirip dengan orang Madura dan Jawa, ditinjau dari segi bahasa yang mirip. Selain itu dahulu pulau Bawean termasuk wilayah Madura.

Masyarakat Bawean, memiliki ciri dari berbagai suku-bangsa di sekelilingnya, mereka mendapat pengaruh budaya dari etnik Madura, Jawa, Bugis, Sumatera dan Kalimantan. Seorang wartawan Kompas Emmanuel Subangun menuliskan pada tahun 1976, bahwa orang Bawean adalah "Kristalisasi Keragamaan Etnik Indonesia". Maka dari itu sistem kekerabatan bagi suku bawean bukanlah hal yg asing , karena sifat mereka mempunyai jiwa rantau dimana mereka harus terbiasa membaur dengan suku lain. Dan juga mereka memiliki sifat yang sulit di atur, keras, dan sok pinter sifat tersebut menunjukan bahwa orang bawean adalah orang yang hebat dengan tingkat kemandirian yang lebih.

Budaya Suku Bawean

Kercengan

Kercengan biasanya dipersembahkan sewaktu acara Perkawinan. Masyarakat Madura menyebut nama kercengan dengan Hadrah.
Penari berbaris sebaris atau dua baris. Pemain kompang dan penyanyi duduk di barisan belakang. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pemain kercengan terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Cukur Jambul

Bayi yang telah genap usianya 40 hari mengikuti acara bercukur jambul. Adat ini sama seperti adat orang Melayu dan Jawa. Bacaan berzanji bersama paluan kompang merayakan bayi yang akan dicukur kepalanya.

Pencak Bawean

Pencak Bawean sering ditampilkan dalam acara hari besar seperti hari kemerdekan 17 agustus maupun acara perkawinan orang bawean. Pencak Bawean mengutamakan keindahan langkah dengan memainkan pedang.

Dikker

Alunan puji-pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW disertai dengan permainan terbang.

Mandiling

Sejenis tari-tarian disertai dengan pantun