-->

Mengenal Asal Usul, Karakteristik, dan Upacara Kasada Suku Tengger

Suku tengger berasal dari provinsi Jawa Timur. Suku Tengger adalah masyarakat yang mendiami dataran tinggi di sekitar kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, atau masuk wilayah Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo. Meski mendiami sebagian wilayah di Jawa Timur, suku Tengger memiliki banyak perbedaan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Perbedaan tersebut meliputi kepercayaan, bahasa, dan kebudayaan. Masyarakat Tengger banyak dikenal luas lewat salah satu upacara adatnya yang disebut Yadnya Kasada. Upacara ini biasa dilaksanakan pada tanggal 14 bulan Kasadha. 

Asal Usul Suku Tengger

Beberapa kalangan berpendapat bahwa masyarakat Suku Tengger berasal dari keturunan para pengungsi Kerajaan Majapahit saat mulai runtuh akibat serangan dari Kerajaan Islam Demak di bawah Sultan Raden Patah. Sebagian dari pengungsi tersebut ada yang menyeberang ke pulau Bali dan ada pula yang memilih untuk mendiami dataran tinggi di sekitar kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Keturunan dari mereka yang mendiami kawasan pegunungan inilah kelak menjadi masyarakat suku Tengger. 

Sedangkan menurut asal namanya, sebutan "Tengger" dapat dijelaskan dengan 3 teori, yaitu:

Pendapat pertama, kata tengger berarti pegunungan. Hal ini dimaksudkan sebagaimana tempat tinggal suku tengger yang berupa kawasan pegunungan tersebut. 

Pendapat kedua, kata tengger berasal dari kalimat Tenggering Budi Luhur yang berarti budi pekerti yang luhur. Hal ini menggambarkan watak masyarakat suku tengger yang berbudi pekerti luhur dalam segala aspek kehidupan. 

Pendapat ketiga, sebutan tengger berasal dari gabungan kata akhiran dari nama dua sosok yang diyakini sebagai leluhur mereka, yakni Roro Anteng (teng) dan Joko Seger (ger). 

Karakteristik Masyarakat Suku Tengger

Seperti telah disebutkan di atas, masyarakat tengger adalah keturunan dari pengungsi Majapahit yang telah mendiami kawasan sekitar gunung Bromo sejak ratusan tahun yang lalu. Selama itu pula, mereka mengisolasi diri dari pengaruh luar sehingga baik kepercayaan, adat, budaya, maupun tradisi yang mereka miliki tidak terpengaruh oleh modernisasi zaman. Kondisi ini kemudian berdampak pula pada kondisi sosial masyarakat Suku Tengger.

Seperti pendahulunya, masyarakat Tengger pada umumnya beragama Hindu. Pada mulanya, para leluhur Suku Tengger menganut agama Hindu aliran kepercayaan Siwa-Budha, namun seiring waktu kemudian berkembang menjadi agama Hindu sebagaimana dianut oleh Suku Tengger masa kini. Meskipun begitu, masyarakat suku Tengger dikenal taat dengan aturan dalam agama Hindu. 

Dari segi bahasa, suku tengger menggunakan jawa kuno sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Bahasa tersebut diyakini sebagai turunan dari bahasa Kawi yang banyak mempertahankan kosakata kuno dimana sudah tidak digunakan lagi dalam bahasa Jawa modern. Begitu pula dengan adat, tradisi, dan budayanya, masyarakat suku tengger tetap berupaya mempertahankan karakteristiknya sehingga masih tetap lestari sampai saat ini.

Upacara Kasada Suku Tengger

Upacara Kasada merupakan upacara terbesar bagi orang Tengger. Upacara ini terkait dengan legenda asal-usul masyarakat Tengger. Berdasarkan kisah dalam legenda tersebut, pada akhir abad ke 15, ketika kekuasaan Majapahit mulai menurun, seorang putri dari kerajaan Majapahit, Roro Anteng bersama suaminya, Joko Seger menyingkir ke wilayah sekitar Gunung Bromo dan membangun kerajaan kecil dengan nama Tengger. Meski kerajaan tersebut berkembang dengan baik, pasangan penguasa tersebut sedih karena tidak dikaruniai keturunan. 

Dalam keputusasaan, Roro Anteng dan Joko Seger memutuskan untuk mendaki puncak Gunung Bromo dan berdoa meminta pertolongan kepada para dewa. Para dewa mengabulkan permohonan mereka dengan syarat, bahwa anak bungsu yang dilahirkan harus dikurbankan ke dalam kawah gunung tersebut. Tanpa berpikir panjang, persyaratan itu pun disetujui oleh pasangan tersebut.

Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak dari pasangan itu. Namun, para dewa bermurah hati sehingga pada tahun-tahun berikutnya 24 anak lahir dari pasangan tersebut. Akan tetapi, ketika sang ratu mendengar bahwa anaknya yang ke 25 yang bernama Kesuma merupakan anak yang terakhir dan harus dikurbankan, dia tidak tega memenuhi janjinya itu.

Dalam kemarahannya, para dewa mengancam akan memuntahkan api dan belerang dari dalam gunung. Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi pasangan itu, kecuali melemparkan putranya yang terakhir ke dalam kawah Gunung Bromo. Segera setelah pengorbanan dilakukan terdengar suara anak itu yang meminta kepada masyarakat Tengger dan keturunannya untuk melakukan upacara setahun sekali di Gunung Bromo. Upacara itu bertujuan untuk memperingati peristiwa itu dan untuk meredam kemarahan para dewa.

Hingga kini, upacara Yadnya Kasada atau Kasodo selalu diadakan setiap setahun sekali oleh masyarakat Tengger. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.