-->

Mengenal Asal Mula dan Kelompok Etnis Suku Baduy

Suku Baduy berasal dari provinsi Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Asal Mula Suku Baduy

Baduy atau orang kanekes adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di Wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang sepertinya  menyamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada dibagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai “urang Kanekes” atau orang kanekes (FISE UNY, 2011: 3), sesuai dengan nama wilayah mereka atau mengacu pada nama kampung mereka yaitu Kanekes. Meskipun demikian banyak masyarakat luar yang lebih mengenal mereka sebagai orang Baduy. 

Asal Mula Kata “Baduy”

Menurut definisi yang diberikan oleh beberapa dongeng dan cerita rakyat di Banten, Baduy datang dari nama sebuah tempat yang dijadikan tempat hunian. Sendang yang bernama Cibaduy, tapi ternyata nama Sendang Cibaduy lahir setelah masyarakat mengasingkan diri itu membuka kampung. Ada pendapat lain yang mengatakan, kalau Baduy berasal dari kata “Budha” yang berubah menjadi “Baduy”. Ada juga yang mengatakan dari kata “Baduyut”, karena kampung yang dijadikan tempat huniannya banyak tumbuh pohon baduyut, sejenis beringin. Yang jelas kata Baduy lahir setelah masyarakat yang mengasingkan diri itu membangun perkampungan yang sampai sekarang dikenal dengan panggilan orang-orang Baduy. Menurut arti sebenarnya kata Baduy datang dari bahasa Arab “Badui” yang berasal dari kata “Badu” atau “Badaw” yang artinya lautan pasir (Djoewisno dalam Wilodati, 1986: 5). Dan masih banyak lagi pengertian tentang “Baduy”. Namun, pernyataan bahwa “Baduy” berasal dari bahasa arab “ Badaw” atau “Badau”lah yang paling banyak dikemukakan oleh beberapa ahli dan penulis. 

Orang Baduy Berasal Dari Batara Cikal

Menurut kepercayaan yang dianut suku baduy, mereka adalah keturunan Bhatara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus turun ke bumu untuk menjaga harmoni dunia. Mereka percaya bahwa tanah kediaman mereka yang mereka sebut sebagai Pancer Bumi adalah  pusat dunia, tempat manusia pertama kali diturunkan ke bumi (Astari, 2009 : 4). 

Keberadaan Masyarakat

Diduga pada jaman dulu keberadaan suku Baduy yang seperti mengasingkan diri dari pertumbuhan masyarakat karena mereka adalah anggota kelompok masyarakat Kerajaan Padjadjaran yang menyelamatkan diri, maka identitas dan jati diri mereka sengaja ditutupi yang mungkin bertujuan untuk melindungi komunitas Baduy dari musuh-musuh Padjajaran. 

Pengaruh Agama di Suku Baduy

Pengaruh Agama Budha dan Hindu

Pengaruh agama Budha terlihat dari asala nama “Baduy” yang diungkapkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa “Baduy” berasal dari kata “Budha”. Perkembangannya sekarang, kepercayaan yang dianut masyarakat Baduy sudah dipengaruhi oleh agama Budha dan Hindu. 

Pengaruh Agama Islam

Kepercayaan masyarakat Baduy disebut sunda wiwitan yang berakar pada pemujaan arwah nenek moyang (animisme). Namun, perkembangan sekarang kepercayaan sunda wiwitan sudah dipengaruhi oleh agama Islam. Banyak warga yang memeluk agama islam, namun masih tetap mempercayai kepercayaan sunda wiwitan. 

Kelompok Etnis Baduy

Tangtu

Tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih (Wilodat, 2011: 4). Baduy Dalam menolak akan adanya teknologi modern dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka sangat memegang teguh tradisi dan patuh pada peraturan adat. 

 Panamping

Panamping adalah kelompok yang dikenal sebagai baduy luar, yang tinggal di beerbagai kampung dan tersebar mengelilingi wilayah  Baduy dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam (Wilodati, 2011:. Masyarakat Baduy Luar tidak seperti Baduy dalam yang sangat taat pada adat dan tidak mau menerima kemajuan teknologi. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy Luar sudah terpengaruh budaya luar dan kemajuan teknologi, tetapi mereka masih patuh terhadap adat istiadat meski tidak seketat Baduy Dalam.  

Dangka

 Baduy dangka adalah suku baduy yang tinggal di luar wilayah Kanekes, berbeda dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Menurut Permana (dalam Astari, 2009: 8), mereka tinggal di dua kampung yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka berfungsi sebagai “buffer zone” atas pengaruh dari Luar  Kelompok etnis baduy terbagi menjadi tiga yaitu, Baduy Dalam (Tangtu), Baduy Luar (Panamping), dan Baduy Dangka. Ketiga kelompok Baduy tersebut tinggal di sekitar Desa Kanekes dan di luar Desa Kanekes. Baduy dalam memiliki pakaian khas berwarna putih dan biru serta memakai ikat kepala putih, Baduy Luar memiliki pakaian khas dan ikat kepala yang berwarna hitam, sedangkan Baduy Dangka berfungsi sebagai “buffer zone” atas pengaruh dari luar.  

Hukum Masyarakat Baduy

Masyarakat baduy memiliki hukum tindak pidana yang digunakan dalam aturan suku Baduy. Pelanggaran – pelanggaran yang dilakukan oleh pelanggar akan mendapatkan hukuman/sanksi tersendiri. Hukuman itu sendiri disesuaikan dengan kategori pelanggaran, yang terdiri atas pelanggaran berat dan pelanggaran ringan (bungareskilestari.plus.google.com, 2013) 

Hukuman Ringan

Dalam bentuk pemanggilan sipelanggar aturan oleh Pu’un untuk diberikan peringatan. Contohnya: beradu-mulut antara dua atau lebih warga Baduy. 

Hukuman Berat

Diperuntukkan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan hukuman ini dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi peringatan. Contohnya : Disantet, bahkan dikeluarkan dari Baduy Dalam ke Baduy Luar atau mungkin dikeluarkan dari luar Suku Baduy. Jadi untuk sistem hukum masyarakat masihlah sangat kuat dan berhubungan dengan tradisi leluhur yang tidak boleh dilanggar. Jika berani melanggar maka sanksi yang diberikan akan dipertimbangkan antara hukuman ringan dan hukuman berat.